This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 17 Desember 2013

Pengertian dan Jenis - Jenis Artikel

Mungkin sudah sering kita lihat yang satu ini tapi banyak dari kita belum mengetahuinya itu tulisan jenis apa, Artikel adalah tulisan yang berisi pendapat, ide atau fakta yang mana kadang kala menghibur, mendidik ataupun mengkritisi yang disebar luaskan melalui media massa baik online maupun offline. Untuk menulis sebuah artikel siapapun bisa melakukannya dan itu mudah, tapi hasil dari tulisan masing masing individu dijamin berbeda. Nah setelah pesatnya perkembangan zaman banyak individu mampu menuliskan artikel di berbagai media online, dimana mereka dapat menuliskan apapun tanpa ada batasan, ada yang disukai oleh masyarakat dan ada juga yang dibenci karena menjatuhkan.Sebelum Anda berpikir membuat sebuah artikel sebaiknya Anda pelajari dulu jenis jenis artikel atau membaca sekilas apa itu artikel melalui media koran atau media lainnya, berikut ini jenis-jenis artikel dan contohnya :
  1. Artikel Eksploratif
    Artikel atau tulisan yang berisi ungkapan dari fakta-fakta menurut sudut pandang si penulis
    Contoh artikel Eksploratif : Makalah penelitian
  2. Artikel Eksplanatif
    Adalah tulisan yang dibuat untuk menerangkan atau menjelaskan suatu hal kepada pembaca menurut berbagai sudut pandang, terutama dari sudut penulisnya
    Contoh artikel Eksplanatif : Buku berjudul “3 Ciri Pribadi Sukses” oleh (Kevin Wu. Gatra, 16 Maret 2011), serta buku-buku sejenisnya yang lain
  3. Artikel Deskriptif
    Artikel atau tulisan yang disusun untuk menggambarkan sebuah permasalahan yang sedang terjadi dalam masyarakat
    Contoh artikel Deskriptif : Berita tentang aksi tawuran antar kampung4.
  4. Artikel  Prediktif
    Artikel yang memuat tentang sesuatu yang sifatnya akan atau belum terjadi, menurut analisa si penulis
    Contoh artikel Prediktif : Prakiraan cuaca, Prediksi skor (hasil) pertandingan sepakbola

Kumpulan Roman

1. Roman Sosial 
 Keluarga Permana

Keluarga Permana yang dulunya damai-damai saja. Tiba-tiba sekarang penuh dengan penderitaan entah itu lahir maupun batin. Awal penyebabnya ialah setalah Permana dipecat oleh perusahaan tempat ia bekerja, dengan alasan yang tak jelas. Permana yang dikenal bijaksana namun, akibat semua itu ia berubah menjadi seorang kepala keluarga yang kasar. Ia selalu menyiksa istri dan anaknya sebagai pelampiasan kemarahannya.
Selama Permana menganggur, istrinya yang bekerja keras mencari nafkah. Namun walaupun sudah bekerja Saleha, istrinya itu tetap saja mengalami siksaan dari suaminya. Hal ini karena Permana merasa dirinya tak berarti sebagai seorang laki-laki. Dia merasa malu sehingga otak jernihnya menjadi buram, penuh dengan prasangka yang buruk. Dalam benaknya selalu terbayang, bahwa istrinya sewaktu bekerja disenangi oleh kaum lelaki di tempat kerjanya. Akibatnya, dia suka cemburu tanopa bukti. Dia tuduh bahwa istrinya telah berbuat senonoh.. Jika Saleha, istrinya itu menjelaskan  atau mungkin membantah dengan kata-kata yang sedikit keras volumenya, Permana pasti langsung naik pitam. Akibatnya Saleha sering disiksanya, ditendang, dipukuli dan seterusnya. Kalau sudah begitu, hati Saleha terasa hancur, usahanya yang demikian keras agar keluarga nya bisa rukun kembali nampaknya menemui jalan buntu. Namun semuanya itu, tetap ia kuatkan. Dia tidak mau kalau-kalau keluarganya hancur.Permana juga sering menyiksa anaknya, Ida. Ida sering mendapat pukulan, tamparan dan cubitan bahkan sabetan rotan hingga berulang-ulang. Akibatnya, Ida menjadi gadis yang penakut dan pendiam. Siswa sebuah SMA ini, begitu benci dengan ayahnya yang semacam Permana.Kelakuan Permana agak sedikit mereda, setelah Sumarto, lelaki muda yang datang dari Bandung dan kost di rumah Permana itu. Hal itu dikarenakan, adanya sedikit pemasukan uang bulanan.
Orang yang paling senang dengan keberadaan Sumarto, sebenarnya Ida. Bagi Ida yang selama ini tak punya teman, sekarang telah mempunyai Sumarto. Apalgi, Sumarto termasuk orang yang sopan dan ramah sehingga cepat beradaptasi dalam rumah itu. Karena sering bertemu, diantara keduanya terjalin cinta. Mereka pun menjalin hubungan kasih yang erat. Malah sampai hilang kontrol, keduanya melakukan hubungan intim.
Karena curiga, lama kelamaan pak Permana mengetahi hubungan Sumarto dengan Ida. Hingga akhirnya, Sumarto pun diusir secara halus oleh nya. Sumarto pun pergi meninggalkan kekasihnya tercintanya itu.
Komariah, pembantunya itu melaporkan kalau Ida sedang hamil. Betapa kagetnya, Permana dan istrinya itu. Untuk menutupi aib yang sedang menimpa keluarganya itu, Mereka sepakat untuk menggugurkan kandungan Ida itu. Secara diam-diam, pergilah Saleha ke dukun beranak dan membawa sebuah ramuan obat yang harus diminum oleh Ida.
Setelah minum obat, keadaan Ida menjadi gawat. Dia merasa sakit yang bukan kepalang. Akibatnya, Ida sampai dirawat di rumah sakit. Oleh dokter, rahimnya terpaksa diangkat. Itu berarti kemungkinan kecil Ida dapat hamil kembali. Sungguh suatu pengalaman pahit yang harus ditelan Ida. Dia sungguh putus asa dan menderita menerima kenyataan itu. Tapi bagaimana lagi, hal itu sudah terjadi. Sumarto sendiri, yang mengetahui bahwa Ida sedang hamil terus dirundung rasa menyesal dan berdosa kepada Ida dan Tuhan. Sumarto sering melaporkan peristiwanya itu kepada Romo Murdianto. Dengan kesadaran penuh, akhirnya Sumaro mau bertanggung jawab akan perbuatannya itu. Dia akan segera minta maaf kepada Ida, beserta keluarganya kemudian hendak melamar Ida.
Sumarto pun berangkat ke Bandung dan membawa Ida ke Pastornya. Ida yang merasa bahwa itu satu-satunya pilihan, maka Ida pun harus rela pindah agama dan mengikuti agama suaminya itu, yaitu agama kristen. Walaupun masih diliputi rasa bimbang, akhirnya Ida dibaptis oleh Romo Murdianto.
Dengan berat hati, Saleha dan suaminya merelakan anaknya menikah dengan Sumarto. Keduanyaa menikah di catatan sipil. Pesta perkawinannya itu dilakukan dengan penuh kesederhanaan dan dihadiri oleh keluarga kedua belah pihak. Suasana resepsi perkawinan begitu kaku.
Habis acara itu, Ida diboyong suaminya ke Jatiwangi, kampung halaman suaminya itu. Di sana Ida mendapat musibah sehingga Ida terpaksa dirawat lagi ke rumah sakit.
Suatu malam di rumah sakit, ketika dia tergopoh-gopoh menuju kran air karena hendak mencuci wajahnya. Tiba-tiba Ida terantuk meja dekat kran air tersebut. Ida yang tergeletak di lantai dengan keadaan yang mengkhawatirkan.
Suster yang seketika mendengar itu, langsung menghampiri  sumber suara tersebut. Betapa kaget, ia melihat keadaan Ida. Melihat itu, suster langsung membisikkan ke telinga Ida; Allahu Akbar Lailahaillallah beberapa kali dengan sayup-sayup diikuti pula oleh Ida. Habis itu, Ida langsung meninggal dunia. Ida dimakamkan dalam kuburan katholik sebab dia telah dibaptis / sudah pindah ke agama kristen.
Kematian Ida itu, membuat pak Permana sangat menyesal. Batinnya hancur. Pikirannya terbawa arus. Dia tidak mau meninggalkan kuburan anaknya. Akhirnya, dia berubah menjadi kurang akal / gila. 
 
2. Roman Adat 
Ronggeng Dukuh Paruk
Dukuh Paruk seakan-akan mendapat anugrah nyawa baru, ketika Srinthil gadis yatim berusia sebelas tahun itu dinobatkan menjadi ronggeng. Seluruh Penduduknya menyambutnya dengan penuh gembira, sebab dengan begitu menurut mereka citra Dukuh Paruk sebagai Dukuh ronggeng akan kembali menggema. Padukuhan yang terkenal kering kerontang ini nantinya akan diramaikan lagi dengan berdatangan tamu dari berbagai penjuru desa, uang-uang terbang berseliweran ke atas panggung ronggeng Srintil. Ramainya seloroh-seloroh cabul dan sebangsanya, serta silih sikutnya antar pesaing dalam memperebutkan ronggeng Srintil, atau suasana-suasana gembira lainnya. Bau-bau harum keramatnya Ki Secamenggala Pasti akan menyebar kembali menyelimuti Dukuh Paruk.

Orang yang paling bahagia dengan dinobatkannya Srintil sebagai ronggeng adalah kakek neneknya sendiri, Sukarya dan istrinya. Usaha mereka mengasuh Srintil, sejak kedua orang tua Srintil meninggal dunia karena keracunan, yang terjadi sekitar sebelas tahun yang lalu ternyata tidak sia-sia. Dan yang terpenting juga bahwa tugas mereka menjadikan Srintil sebagai seorang ronggeng membuahkan hasil.

Sebaliknya yang terjadi terhadap Pemuda, Rasus namanya dia sangat kecewa dan sedih menerima kenyataan Srintil dinobatkan menjadi ronggeng. Sebab, bagaimanapun juga Srintil adalah kekasihnya. Dia sangat mencintai Srintil. Akan tetapi, kalau Srintil menjadi ronggeng maka itu berarti Srintil bukan miliknya sendiri melainkan milik semua orang. Semua orang bebas meniduri Srintil, karena memang sudah begitu kehidupan seorang ronggeng dari sejak dulu. Dan tentu saja, untuk menjadi ronggeng,Srintil harus menyerahkan keperawanannya kepada orang lain yang jelas akan ditentukan oleh sang dukun ronggeng, yaitu ki Kertareja.

Dan Rasus sudah tahu, siapa pemuda yang akan mendapat kesucian Srintil pertama kali, yaitu pemuda Dower dan Sulam. Kedua pemuda inilah yang mendapat giliran pertama, setelah mendapat sayembara yang telah ditentukan oleh ki Dukuh Kertareja. Sulam mempersembahkan seringgit uang emas, dam pemuda Dower menyerahkan seekor kerbau dan dua rupiah uang perak kepada Ki Kertareja.

Pada suatu malam yang sudah ditentukan oleh Kertareja, dukun runggneg Dukuh Paruk itu. Srintil pun dinobatkan menjadi ronggeng Dukuh Paruk. Secara diam-diam Rasus mengikuti pelaksanaan upacara tersebut dari jauh. Srintil dibawa ke makam ki Secamenggala. Di depa makam, ki Secamenggala , Srintil dimandikan. Setelah dimandikan, maka Srintil akan menjalani tahap berikutnya, yaitu menjadi budak kelambu, menyerahkan keperawanannya kepada pemuda yang telah ditentukan oleh Ki Kertareja, yang tidak lain adalah Dower dan Sulam, dua orang pemuda bajingan Dukuh Paruk tersebut. Pada malam itu, kedua pemuda tengik ini saling bertengkar di samping rumah Dukun Kertareja, yang saling memperebutkan siapa yang paling berhak mendapat giliran pertama untuk meniduri Srintil. Pertengkaran ini, secara diam-diam didengar oleh Rasus. Tanpa diduga, sewaktu Rasus dalam keadaan sedih dan marah sambil melihat pertengkaran kedua pemuda tadi. Tiba-tiba Srintil muncul menghampiri Rasus yang sedang bingung itu, di belakang rumah dukun Kertareja.

Srintil memohon kepada Rasus agar bersedia menidurinya waktu itu, sebab dia rela dan sangat membenci pemuda Dower dan Sulam. Permintaan Srintil itu pun tidak ditolak oleh Rasus, sebab memang sudah lama dia mendambakan akan hal tersebut. Rasus pun begitu menikmati dan sangat bersemangat. Baru setelah pemuda Rasus beres menggauli Srintil di belakang rumah dukun Kertareja itu, barulah pemuda Dower dan Sulam datang.

Sehabis meniduri Srintil, orang yang sangat dicintainya itu Rasus meninggalkan Dukuh Paruk Dia meninggalkan Srintil orang paling dicintainya itu dan sekaligus orang yang paling dibencinya saat itu, karena Srintil sudah menjadi ronggeng, yang sekaligus akan menjadi milik banyak orang.

Di Desa Dawuan tempat Rasus mengasingkan diri, Rasus lebih banyak merenung akan peristiwa itu. Bayangan Srintil yang selalu terbayang dalam dirinya, dia coba singkirkan. Malah, ketika Srintil memintanya untuk menjadi suaminya itu, dengan tegas Rasus menolaknya. Rasus sudah memutuskan bahwa biarlah dia mengalah dan biarlah Srintil menjadi milik orang banyak, menjadi ronggeng kebanggaan Dukuh Paruk.
 
3. Roman Sejarah 
Hulubalang Raja 


Raja Kota Hulu, yang merasa putrinya Ambun Suri sudah  saatnya dicarikan seorang suami. Untuk itu dia mengundang para bangsawan di daerah sekitar Kota Hulu ataupun dari daerah lainnya untuk mengadakan peruntungan memprebutkan putrinya itu. Namun,ternyata para bangsawan itu, kecuali Sutan Muhammad Syah seorang raja serakah di Kota Hilir, yang berhasil melampaui perlombaan yang digelarkan, sehingga hanya dialah yang berhak melamar Putri Ambun Suri. Lamaran Raja Sutan Muhammad Syah yang sebenarnya sudah mempunyai istri dan merupakan seorang raja yang serakah itu dengan terpaksa itu harus diterima oleh Raja Kota Hulu.
Rupanya Putri Kemala Sari, istri Sutan Muhammad Syah merasa iri dengan Ambun Suri madunya itu, sehingga dia berniat mencelakakan Ambun Suri. Dalam suatu kesempatan niatnya itu dia laksanakan dengan baik, Putri Suri dicelempungkan ke dalam sungai ketika Putri itu mandi di sungai. Sehingga Putri Ambun Suri lenyap dibawa arus sungai dan tak tahu nasibnya lagi setelah itu.
Hilangnya Putri Ambun Suri itu ternyata membuat Ali Akbar, kakaknya Putri Ambun Suri marah setelah dia tahu bahwa yang mencelakakan adik yang sangat dia cintai itu adalah Putri Kemala Sari, istri tua Sutan Muhammad Syah itu. Akibatnya terjadilah perang antara kedua belah pihak, yaitu antara kedua belah pihak, yaitu antara laskar pendukung Ali Akbar dengan laskar Sutan Muhammad Syah. Cukup lama dan sengit pertempuran yang terjadi, namun karena Sutan Muhammad Syah mendapat bantuan dari kompeni, maka pasukan Sutan Ali Akbar semakin lama semakin terdesak. Karena tak mampu melawan secara terbuka, kemudian Sutan Ali Akbar ke hutan dan melakukan perlawanan secara gerilya. Sedangkan daerah Sutan Ali Akbar yang bergelar Raja Adil itu habis dibumi hanguskan oleh pasukan kompeni dan Sutan Muhammad Syah.
Kehadiran kompeni di daerah memang selalu mendapat reaksi negatif dari kebanyakan penduduk. Karena kedatangan  mereka di sana dilihat dari tingkah lakunya yang tidak hanya berdagang akan tetapi ada maksud hendak menguasai perdagangan secara monopoli maupun menguasai tanahnya. Kompeni itu selalu mendapat perlawanan sengit dari penduduk setempat yang dipimpin oleh Sutan Ali Akbar yang sangat sulit untuk ditaklukkan.
Dalam menumpas rakyat yang tidak setuju akan kompeni-kompeni itu, maka kompeni selalu mencari dan meminta bantuan pada raja-raja atau siapa saja yang bersedia bekerja sama dengan mereka. Dalam usahanya itu kompeni tidak hanya dibantu oleh Laskar Sutan Muhammad Syah tetapi juga, oleh Sutan Malakewi. Dia ini ditugaskan oleh kompeni untuk menumpas kaum pemberontak yang berada di daerah Pauh. Berkat bantuan Malakewi itu, banyak pemberontak hancur. Namun, satu laskar pemberontak yang paling sulit dia tumpaskan yaitu Laskar yang dipimpin oleh Raja Adil atau Sutan Ali Akbar. Malah, pada suatu pertempuran pimpinan pasukan kompeni  yaitu Groenewegen hampir tewas digasak oleh Laskar Raja Adil. Tetapi, untung saja Groenewegen terselematkan oleh Sutan Malakewi. Namun, sejak kecelakaan itu Groenewegen terus mengalami sakit-sakitan hingga meninggal dunia.
Gruys yang menggantikan Groenewegen ternyata setali tiga uang dengan Groenewegen, dalam menumpas para pemberontak di Pauh. Karena tidak berhasil , kemudian diadigantikan oleh Abraham Verspreet. Verspreet yang dibantu oleh laskar- laskar yang dibawa dari Ambon dan Bugis itu dan bersama Sutan Malakewi menggempur para pemberontak habis-habisan.
Namun perlawanan rakyat masih terus gigih. Malah, Sutan kalaupun Sutan Malakewi tidak diselamatkan oleh Laskar dari Bugis  hampir tewas. Untung saja,Dia hanya terluka. Sementara Adik Sutan Malakewi, Adnan Dewi juga tertawan dan diculik oleh orang-orang Raja Adil. Setelah  Sutan Malakewi sembuh dari lukanya, dia mencari adiknya dengan cara menyamar sebagai rakyat biasa ke dalam tubuh laskar Raja Adil. Namun, penyamarannya terbongkar. Sutan Malakewi tidak dicelakai oleh Raja Adil karena ternyata perempuan yang diculik itu yang sebenarnya adik Sutan Malakewi, telah dijadikan istri. Melihat kenyataan itu, rupanya Sutan Malakewi tidak bisa berbuat apa-apa. Karena musuh besarnya sekarang, telah menjadi adik iparnya sendiri. Kemudian keduanya, karena sudah menjadi saudara saling melupakan permusuhan masa lalunya. Sutan Malakewi kemudian membawa Raja Adil dan Adnan Dewi ke kedua orang tuanya. Dan ternyata orang tua Sutan Malakewi menerima kedatangan mereka dengan suka cita . Tidak lama kemudian, pesta penyambutan Raja Adil dan istrinya itu dilanjutkan pesta besar berikutnya, yaitu pesta perkawinan antara Saryawa dengan  Sutan Malakewi yang bergelar Hulubalang Raja itu.

Minggu, 15 Desember 2013

Apresiasi Sastra

Fungsi Apresiasi Sastra


Sebelum kita membahas tentang fungsi apresiasi sastra, maka perlu kita ketahui terlebih dahulu tujuan apresiasi sastra. Tujuan apresiasi sastra antara lain menyelenggarakan perjamuan dan percakapan agar terhidangkan atau tersuguhkan pengalaman, pengetahuan, kesadaran, dan hiburan. Agar tujuan ini tercapai, apresiasi sastra mengemban fungsi tertentu. Disini fungsi merupakan jalan atau wahana tercapainya tujuan-tujuan apresiasi sastra. Diselaraskan dengan tujuan yang hendak dicapai, fungsi apresiasi sastra dapat digolongkan menjadi empat macam yaitu :
1.      Fungsi eksperensial.
2.      Fungsi informatif.
3.      Fungsi penyadaran.
4.      Fungsi rekreatif.

1.         Fungsi Eksperensial
Apresiasi sastra mengemban fungsi eksprensial (experiencial), yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan meghidangkan pengalaman-pengalaman manusia kepada pengapresiasi sastra agar ia dapat menjiwai, menghayati, dan menikmati pengalaman-pengalaman manusia itu. Disini ditekankan makna pengalaman, bukan faktanya yang real life karena sastra memang tidak merawat dan memperjuangkan fakta, melainkan makna pengalaman manusia. Dengan demikian, yang disediakan, ditawarkan, disuguhkan, dan dihidangkan apresiasi sastra bukanlah pemberitaan pengalaman manusia, melainkan permenungan pengalaman manusia. Konsekuesinya yang dijiwai, dihayati, dan dinikmati pengapresiasi sastra ialah makna pengalaman manusia yang dapat dijadikan permenungan. Sejalan dengan itu apresiasi sastra harus mampu menjadi penyelenggara permenungan tentang makna pengalaman manusia dan pembimbing pengpresiasi sastra untuk melakukan permenungan tentang makna pengalaman manusia. Sementara itu karya sastra harus bisa menjadi tambang permenungan dan layar proyeksi berbagai makna pengalaman manusia. Dengan demikian pengapresiasi sastra mampu menjiwai, menghayati, dan menikmati makna pengalaman manusia yang didulangnya sendiri dan diproyeksikan oleh sastra. Selanjutnya ia mempermenungkan agar ikatan batinnya dengan hidupnya sendiri kembali kukuh. 
Pengalaman manusia yang bisa ditambang oleh pengapresasi dari karya sastra dan diproyeksikan oleh karya sastra kepada pengapresiasi sangat beranekaragam. Keanekaragaman ini disebabkan oleh subjektivitas apresiasi sastra itu sendiri. Itu sebabnya mustahil kita bisa mengidentifikasi pengalaman manusia secara lengkap. Yang bisa diidentifikasi terbatas pada pengalaman-pengalaman yang lumrah diperoleh oleh manusia, yaitu pengalaman literer-estetis, etis dan moral, psikologi, humanistis, filosofis, relegius-sufistis-profetis, magis-mitis, sosial budaya, dan sosial politis. Pengalaman literer-estetis adalah Pengalaman keindahan, keelokan, kebagusan, kenikmatan, kememikatan. Pengalaman tersebut nampak pada kutipan berikut “Antara gelap dan lembayung sinar sekarat di barat yang merah, sepedaku meluncuri jalan kecil depan istana. Istana itu mandi dalam cahaya lampu listrik. Entah beberapa puluh ratus watt.Aku tak tahu. Hanya perhitungan dalam persangkaanku mengatakan: listrik di istana itupaling sedikit lima kilowatt. Dan sekiranya ada dirasa kekurangan listrik, orang tinggal mengangkat tilpun dan istana mendapat tambahan”. (Toer, 2007:9-10)./BPM. Pengalaman Humanistis adalah pengalaman yang berisi dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan, menjungjung harkat danmartabat manusia, menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan (kondisitragi, dramatis, sinis, ironis, humoristis, riang, murung, dan penasaran). Pengalaman tersebut tampak pada kutipan berikut “Sering ketika aku mengepel lantai, ia datang diam-diam dari belakang, mendekapku mencumbuiku dan memaksaku untuk bermain cinta di lantai itu juga tanpa memberi kesempatan kepadaku, bahkan sekedar untuk bernafas dari jepitan mulutnya yang dipenuhi oleh bau asap rokok. Begitulah yang kuingat. Lalu ia mendesak terus mendesak. Sampai fajriku terasa sakit hingga nyeri dan perihnya menjalar ke seluruh tubuh. Dalam keadaan seperti itu, kelelakian Samsudin semakin menjadi, lalu menggigit bahu dan leherku seperti drakula. Bahkan ia juga memilih sesukanya bagian-bagian mana dari tubuhku untuk dicengkeram. Dicakar-cakar semaunya, seakan aku ini kambing kurban yang sedang berada di tangan seorang penjagal. Bukan saja tubuhku yang terluka tetapi hati dan jiwakupun benar-benar terluka”. (El.Khaliegy,2009:102)/PBS. Pengalaman etis dan moral adalah Pengalaman yang berisi dan bermuatan bagaimana seharusnya sikap dan tindakan manusia sebagai manusia.Pengalaman yang menyajikan bagaimana seharusnya kewajiban dan tanggung jawab manusia sebagai manusia. Tentu saja harus diberi catatan bahwa disini makna pengalaman -pengalaman yang penting, bukan fakta empirik dalam suatu real life meskipun bisa saja demikian.

Pada waktu apresiasi sastra berlangsung, makna pengalaman apa yang dijiwai, dihayati, dan dinikmati untuk selanjutnya dipermenungkan pengapresasi? Hal ini sepenuhnya bergantung pada kepekaan dan ketajaman nurani, rasa, dan budi pengapresiasi sastra, juga bergantung pada kadar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan pengapresiasi sastra. Apresiasi sastra hanya berfungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengalaman manusia dengan cara menyelenggarakan permenungan  tentang makna pengalaman manusia.
2.         Fungsi Informatif
Apresiasi sastra juga mengemban fungsi informatif, yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan pengetahuan-pengetahuan kepada pengapre-siasi sastra agar dia dapat menjiwai, menghayati, dan menikmati pengetahuan itu. sudah tentu pengetahuan di sini juga ditekankan pada maknanya, bukan pada fakta yang empirisnya meskipun hal itu dimungkinkan juga. Hal ini berarti bahwa pengetahuan yang masih terbuka untuk dimaknai, bukan pengetahuan diskursif (tertutup) yang harus dipahami. Konsekuensinya, pengapresiasi sastra harus memaknai pengetahuan itu, bukan memahaminya. Sebab itu, yang ditawarkan, disediakan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra berupa pengetahuan yang masih dilukiskan, bukan pengetahuan yang diformulasikan. Artinya, pengetahuan yang belum disimpulkan dan dirumuskan, tetapi masih terceritakan dan terjabarkan dalam struktur atau tekstur novel. Ini berarti menyimpulkan dan merumuskan berbagai pengetahuan eksistensialisme itu. itulah sebabnya, dalam apreisasi sastra, pengapresiasi harus memaknai lukisan pengetahuan yang terkandung dalam sastra melalui radar-radar nurani, rasa, dan bidu agar ia memperoleh makna pengetahuan itu. Sejalan dengan itu, apresiasi sastra menjadi penyelenggara pemaknaan lukisan pengetahuan dan pengapresiasi menjadi pelaku pemaknaan lukisan pengetahuan. Dalam pada itu, karya sastra diperlakukan sebagai mengandung lukisan pengetahuan. Sebagai contoh novel Para Priyayi (Umar Kayam) sebagai dunia-kewacanaan perlu diperlakukan sebagai mengandung lukisan pengetahuan. Pengapresiasi Para Priyayi menjadi pelaku pemaknaan lukisan pengetahuan dalam Para Priyayi. Keberlangsungan apresiasi novel Para Priyayi sendiri merupakan penyelenggaraan pemaknaan lukisan pengetahuan dalam novel Para Priyayi. Lukisan pengetahuan apa saja yang terkandung dalam sastra dan disediakan, ditawarkan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra? Kita tidak bisa menjawab hal ini secara lengkap dan pasti. Hal ini sepenuhnya bergantung pada kepekaan dan ketajaman nurani, rasa, dan budi pengapresiasi; juga bergantung pada kadar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan pengapresiasi atas lukisan pengetahuan dalam (duna-kewacanaan) sastra. Yang dapat diidentifikasi oleh orang hanyalah pengetahuan-pengetahuan lumrah pengapresiasi sastra, misalnya pengetahuan literer-estetis, etis dan moral, filosofis, psikologis, humanits, religius-sufistis-profetis, sosial budaya, dan sosial politis.
3.  Fungsi Penyadaran
            Disamping fungsi eksperensial dan informatif, apresiasi sastra juga mengemban fungsi penyadaran, yaitu fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan sinyal-sinyal kesadaran pada penegpresiasi sastra. Setelah itu, Si pengapresiasi diharapkan menyadari sesuatu, misalnya hakikat hidup, hakikat manusia, kewajiban hidup, tanggung jawab manusia, dan kebebasan hidup serta makna menjadi manusia. Seuatu sebagaimana tersebut belumlah tersimpulkan dan terformulasikan, melainkan terlukiskan dalam (dunia kewacanaan) sastra. Dengan demikian, yang disediakan, ditawarkan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra kepada pengapresiasi sastra adalah lukisan sesuatu (dalam dunia-kewacanaan sastra) yang memberikan sinyal-sinyal kesadaran yang perlu ditangkap, disimpulkan, dan diformulasi, rasa dan budi pengapresiasi.
            Sejalan dengan itu, apresiasi sastra dapat diperlakukan sebagai penyelenggara penyadaran bagi pengapresiasi dan pengapresiasi sebagai sosok yang sudi menerima penyadaran. Dalam hal ini karya sastra dapat diperlakukan sebagai pengumpan dan pemberi sinyal-sinyal kesadaran. Sebagai contoh, cerpen Robohnya Surau Kami (A. A. Navis) dapat diperlakukan sebagai pengumpan dan pemberi sinyal-sinyal kesadran bahwa beribadah bukan hanya sholat dan mengaji di surai, melainkan juga bekerja tekun di kantor, beramal nyata, berbuat baik kepada orang lain, dan kasih kepada sesama. Pengapresiasi cerpen Robohnya Surau Kami  dapat diperlakukan sebagai sosok yang sudi menerima penyadaran akan makna ibadah sebagaimana dipancarkan oleh cerpen Robonya Surau Kami. Proses apresiasi cerpen Robohnya Surau Kami  dapat diperlakukan sebagai penyelenggara penyadaran terhadap pengapresiasi sastra, dalam hubungan ini proses menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan sinyal-sinyal kesadaran akan makna ibadah sebagaimana disebut di atas kepada pengapresiasi sastra. Sinyal-sinyal kesadaran yang diumpankan dan diberikan oleh sastra, dan selanjutnya disediaka, ditawarkan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra kepada pengapresiasi sastra dapat beraneka ragam. Kita tak bisa mengidentifikasinya secara pasti karena hal ini subjektif sekali. Hal ini bergantung pada kepekaan dan ketajaman nurani, rasa, dan budi pengapresiasi juga bergantung pada kadar penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan pengapresiasi atas fenomena dalam karya sastra. Yang bisa diidentifikasi terbatas pada hal-hal yang lumrah dapat menyadrakan orang, antara lain hakikat hidup manusia, hakikat kebebasan, tanggung jawab hidup manusia, hakikat permainan kekuasaan dan politik, dan hakikat hidup bersama dalam masyarakat.
            Ekspresi kesadaran pengapresiasi sastra setelah mengapresiasi suatu karya sastra juga bermacam-macam. Ini juga sulit diidentifikasi karena bersifat individual dan idio sinkretis. Misalnya, Si Laila Kinanti. Setelah mengapresiasi Penembahan Reso kemudian menyadari hakikat permainan kekuasaan bisa mengekspresikan ketersadarannya dengan mengucap misalnya “O, jadi politik itu sangat kotor dan sering tak bermoral karena bisa membuat orang mengorbankan apa saja demi tercapainya tujuan-tujuan politis”. Jadi ekspresi ketersadaran tidak bisa dipetakan dan diformulasikan secara baku dan pasti. Walaupun demikian kita bisa mengatakan bahwa kesadaran umumnya merupakan perwujudan katarsis dan sublimasi pengapresiasi sastra atas fenomena-fenomena dalam karya sastra yang memberikan sinyal-sinyal kesadaran .
4 .      Fungsi Rekreatif
Fungsi rekreatif adalah fungsi menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan hiburan-hiburan kepada pengapresiasi bilamana ia melakukan apresiasi suatu karya sastra. Pengertian rekreatif disini tidaklah fisikal dan empiris, tetapi batiniah dan sukmawi. Tegasnya, rekreatif bagi batin dan sukma pengapresiasi. Dengan demikian yang disediakan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra adalah hiburan batiniah dan sukmawi.Sebuah karya sastra dapat diandaikan selalu memuat hiburan batiniah dan sukmawi, dan seorang pengapresiasi bisa menjiwai, menghayati, dan menghidangkan hiburan batiniah dan sukmawi itu andaikata radar-radar nurani, rasa dan budinya demikian peka dan tajam. Dalam pada itu, apresiasi sastra dapat diperlakukan sebagai penyelenggara perjumpaan antara sinyal-sinyal hiburan dari karya sastra dan radar-radar nurani, rasa, dan budi pengapresiasi. Dengan begitu, penjiwaan, penghayatan, dan penikmatan sinyal-sinyal hiburan dari karya sastra bisa berlangsung dalam batin dan sukma. Contoh, sastra dramatic Gerr (putu wijaya) dapat diperlakukan sebagai mengandung hiburan-hiburan batin dan sukma. Pengapresiasinya bisa menjiwai,menghayati, dan menikmati hiburan yang terkandung dalam Gerr. Andai kata sudah terjadi kontak antara keduanya berarti telah berlangsung apresiasi sastra. Hal ini berarti apresiasi sastra sudah menjumpakan sinyal-sinyal hiburan dalam Gerr. Dengan radar-radar nurani, rasa,dan budi pengapresiasi yang memang sudah terarah pada Gerr. Selanjutnya hal ini berarti bahwa apresiasi sastra telah menunaikan fungsi rekreatif. Ada bermacam-macam hiburan batiniah dan sukmawi yang disediakan, ditawarkan, disuguhkan, dan dihidangkan oleh apresiasi sastra. Akan tetapi, kita mungkin mengidentifikasinya secara pasti dan lengkapkarena sifatnya individual-subjektif dan idiosin-kretis. Yang bisa dilakukan hanyalah menduga-duga gejala dan pertanda keterhiburan batinian dan sukmawi. Kelegaan, kepuasan, kesenangan, kegembiraan, dan keterpukauan merupakanbeberapa gejaladan pertanda bahwa batin dan sukma memperoleh hiburan pada saat apresiasi sastra. Hal ini bisa terjadi karena humor-humor, kelucuan-kelucuan, keluguan-keluguan, sindiran-sindiran, kekonyolan-kekonyolan bahkan keindahan-keindahan, dan keintensifan-keintensifan serta kekhususan-kekhususan yang terkandung dalam sastra dan tertangkap sewaktu berlangsung apresiasi sastra.

5.       Keterpaduan Fungsi

Berdasarkan fungsi eksperensial, fungsi informatif, fungsi penyadaran, dan fungsi rekreatif tersebut tidak selalu terpisah. Adakalanya malah berpadu. Maksudnya, dalam suatu proses apresiasi sastra bisa teremban atau tertunaikan beberapa fungsi sekaligus. Hal ini bergantung pada proses keberlangsungan apresiasi sastra, pengapresi-asi sastra, dan karya sastra. Jika proses apresiasi berlangsung secara afektif-intelektualitas dan pengapresiasi sastra bertipe afektif-intelektualistis serta karya sastra berbobot atau bermutu, maka berbagai fungsi bisa tertunaikan sekaligus. Proses apresiasi sastra dapat teremban atau tertunaikan dalam beberapa fungsi sekaligus tergantung pada proses keberlangsungan apresiasi sastra, pengapresiasian sastra, dan karya sastra

Kumpulan Puisi

Antologi Puisi



1.      Semangat Juang

Harmoni dunia tak slalu berkelas
Bermelodi getir,
Bermelodi pahit,
Bernada kemakmuran,
Bernada sentosa,
Getir menerpa, semanagat menerjang
Pulau semangat takkan kandas
kandas termakan racun dunia
Tak lenyap tertepa arus kehidupan.


2.      Penjual Pisang

Tepian jalan selalu tebar pesona untukmu
Kepingan rupiah impianmu
Nurani pembeli harapannmu
Membeli anugrah
Menawar tantangan
Buah tanpa jantung itu setia menemanimu
Setia menanti gubahan hati pembeli

3.      Desus Kemalasan Pagi

Embun pagi kembali berbisik
Tersenyum untuk dunia
Matahari enggan menatap dunia
Kerikil kemalasan berkeliaran, enggan tinggalkan ranjang
Tapi…
Batin tersandar
Jalan hidupku bukan untuk ranjang
Ranjang penghantar lorong kegelapan.

4.      Dentingan Ponsel Kelam

Dentingan ponsel yang kelam
Ciptakan kerikil kesedihan
Teropong kebahagiaan blum mendekat
Dentingan ponsel yang kelam berbicara…
Rasamu tlah sirna, bertahan beratus malam hanya sia-sia
Perpisahan mengikis kalbu

5.      Sulit Melupakan

Derai haluan rasa cinta nan indah
Kini hanya berteman bayangmu
Hati enggan torehkan kebencian
Naluri enggan hapus ukiran namamu
Cintaku ibarat terkikis batu karang
Karan tajam…
Setajam kerapuhan yang kau beri
Setajam penghianat yang kau beri

6.      Pantas Bahagia

Trowongan kebahagiaan memang tak abadi
Tak juga berdiri kokoh..
Kokoh bak menara berlian
Wajah hitam…
Pesona kusam tak butuh hinaan
Hanya kebahagiaan, walaupun tak terpatri seutuhnya

7.      Macan Keluarga

Benar jika kau macan kelurga
Aliran keringatmu hanya untuk kebahagiaanku
Kasih sayangmu bak mentari pagi
Secarik hitam putih harapanmu padaku
Inginku lukiskan senyum untuk harapanmu
Jasamu kian terpatri diraga ini

8.      Hinaan

Alunan suara bibirmu sungguh menusuk naluri
Hinaanmu menorehkan harapan
Cacianmu menyelinapkan impian
Ketidakadilan menyusupkan cita
Kekurangan saat ini bukan beban,
Tapi…
Selimut kebahagiaan
Roda kehidupan slalu berputar
Tenggelam pasti menerpa

9.      Perpisahan

Ditempat ini kita berpisah
Melepas kenangan
Melepas harapan bersama senyuman senja
Takdir memang kejam
Takdir tak pandang siapa kita
Hati berbisik rasaku slalu untukmu

10.  Penyesalan

Petikan gitar kerinduan hiasi kalbu
Penyesalan enggan tampak dimuka
Kini hanya berangan bayangmu
Kubenamkan tetes air mata
Kulabukan kerikil-kerik hati
Andai aku cahayamu
Kukan terangi ragamu lagi

11.  Kepalsuan Cinta

Kini kalbu kembali mencintaimu
Kembali terbuka karena harapanmu
Tapi..
Kalbumu enggan menyapa
Cintamu bukan untukku
Cinta memang aneh..
Terkadang indah, terkadang pedih
Sadarku menyapa bahwa kau hanya kepalsuan
Hanya harapan palsu
Hanya kepalsuan cinta

12.  Kehidupan Pengamen

Getaran jiwaku serasa haru
Melihatmu menggemakan lirik gita
Gitar adalah teman setiamu
Bis tempatmu singgah, menanti kepingan logam rupiah
Kepingan rupiah, rangkulan hidupmu

13.  Rindu

Merajut cinta dengan jarak
Ukiran pulau Jawa hingga Kalimantan memisahkan
Senyum manismu terbayang syahdu
Langkah kakimu mengetuk hatiku
Suara indahmu simpan kerinduan
Kerinduan antara Jawa dan Kalimantan

14.  Pasrah

Ku memang bukanlah pribadi yang sempurna
Kusadari hina diri ini
Hina bak kekosongan tak berarti
Wajah hina ini ingin tersenyum mesra
Bukan senyuman hianat
Kan kubiarkan cintaku mengalir tanpa arah
Mengalir berteman derita.

15.  Rindu Senyummu

Aku rindu senyummu, yang temaniku dulu
Senyummu buatku meluruhkan kejenuhan
Senyummu sirami kesedihan
Senyummu penawar masalah
Kini senyum itu hanya sebuah angan-angan
Angan-angan yang fana

16.  Pantang Menyerah

Panas, dingin tak lumpuhkan citaku
Tugas slalu tertoreh dalam hidup
Tapi..
Impian selalu menggoreskan semangat
Menegadah untuk masa depan
Masa depan suci, bukan kelam

17.  Nasya

Kau cikal bakal dunia
Senyum mungilmu sinari semua insan
Gumaman bibirmu hibur nurani
Nasya..
Ringkuhan tangan ibumu tak kenal lelah
Torehkan sevarik keindahan
Torehkan secaraik kebahagiaan
Keindahan,kebahagiaan untuk senyumnya

18.  Perbedaan

Kusadari si Bungkuk ini ibarat bangkai
Tubuh kusam ini tak berarti untukmu
Tak juga bergemerlap baju mewah
Raiu wajahmu berbicara kebencian untukku
Senyum manismu slalu untuknya
Sikap kependidikannmu slalu untuknya
Gemerlap baju mewah benar-benar alihkan logikamu

19.  Lelah

Tulang serasa enggan bernapas
Raga seolah tak berselimut darah
Raut wajah tersenyum dengan putihnya
Pucat membasahi kelelahan

20.  Penghianatan

Kukepakan jari mungilmu untuk ringankanmu
Kusenyumkan ilmuku untuk silogisme tugasmu
Tapi..
Aku benar-benar tertegun
Serasa penuh penghianatan dunia
Penghianatan oleh mulut harimaumu